
Beliau yang berbincang dengan saya adalah salah satu tokoh masyarakat
pesisir pantai Sine yang membimbing karangtaruna,beliau bernama Pak
Jupri. Siang itu kami larut benbincang-bincang mengenai sisi dari pantai
matahari terbit ini,ternyata masih banyak sisi yang tidak banyak orang
ketahui.Dengan aktif beliau berusaha untuk membangkitkan semangat warga
dalam menyikapi insfrastuktur yang terus meningkat walaupun beliau juga
berujar bahwa perlu kesadaran dan kesabaran dalam memberi pengarahan
kepada warga.Pantai yang terletak di Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir
untuk 2 tahun terakhir ini memiliki perhatian khusus dihati
Tulungagung,pantai yang terletak 37 km dari pusat kota Tulungagung ini
menjadi andalan wisata karena 2 tahun ini fasilitas pantai diperbaiki
dan jalanan dari Kecamatan Kalidawir sampai pantai sudah sangat
bagus,selain itu juga sudah terdapat rambu-rambu petunjuk menuju
Pantai.Mayoritas penduduk pesisir pantai bekerja sebagai nelayan,hanya
sebagian masyarakat yang memiliki kapal,sebagian lagi hanya menjadi
buruh.Tidak seluruh nelayan itu orang Sine ada sebagian buruh adalah
pendatang,ada yang dari Sulawesi dan ada yang dari Indonesia
Timur.Setelah beberapa periode ini pantai Sine mendapat perhatian lebih
dengan dibangunnya infrastuktur sebaigian warga merasa diuntungkan
dengan keadaan ini,karena dengan bagusnya jalan dan adanya TPI baru yang
memiliki lahan parkir yang luas membuat minat pengunjung meningkat,dulu
pantai Sine ini hanya bias mengundang 50 pengunjung diakhir
pekan,tetapi sekarang tiap Minggunya bias lebih dari 100
pengunjung,belum lagi kalau ada event.Nah dengan adanya dampak
peningkatan pengung ini oleh warga dimanfaatkan untuk menjual hasil
tangkapannya langsung dengan cara diasap,sekarang sudah dapat dijumpai
warung-warung warga yang menjual ikan asap ini disekitar TPI baru,ikan
yang dijualpun bermacam-macam mulai dari baby
Tuna,cakalang,kakap,tongkol dan masih banyak jenis yang
lainnya.Pengunjung yang datang tidak hanya dari Tulungagung tetapi juga
banyak dari luar kota,rata-rata dari pengunjung itu mendapatkan
informasi tentang pantai Sine ini dari internet/media social.Kegiatan
masyarakat Sine ketika musim dan angin tidak bersahabat untuk melaut
adalah memperbaiki kapal atau jarring,jadi ketika musim dan angin sudah
kembali bersahabat alat mereka sudah siap untuk digunakan
kembali,selain itu juga sebagian warga ada yang memilih untuk bercocok
tanam,untuk profesi sebagi peternak masih sangat minim karna mereka
menganggap menjadi nelayan masih sangat menggiurkan daripada
profesi-profesi yang lain.
Yang menarik diberbincangan saya dengan
pak Jupri adalah ketika masuk ditopik pembahasan hutan cemara.Hutan
cemara ini berada diutara dari pantai Sine.kenapa saya katakana ini
menarik karna peningkatan sampah yang sangat luar biasa,saya
mengunjunginya hanya berjarak seminggu sampah sudah menumpuk dimana-mana
dan ada pula sisa-sisa kayu dari hasil bakar ikan.”kita karang taruna
dan warga juga tahu mbak kalau disana banyak sampah dan meningkat
terus,kemarin-kemarin kalau pas karangtaruna tidak melaut ya mereka
bergotong royong untuk membersihkan tapi kalau pas musim melaut ya
karangtarunyanya kerja semua mbak,dan kalaupun kita mau membuat system
tiket disana kita masih terhalang dengan ijin dari masyarakat,karna ada
sebagian masyarakat yang masih jauh untuk berfikir kesitu” ujar pak
Jupri.sangat miris mendengar itu dari pak Jupri karna memang sampah yang
begitu banyak dan karang taruna yang tidak bias terus menerus berada
dikawasan cemara tersebut,andakan mau dibuat tiket masuk itu hanya
sekedar untuk uang kebersihan dan keamanan,karena kalau nanti ada
apa-apa pasti warga yang direpotkan.harus ada keamanan juga untuk
berjaga-jaga ada anak muda yang bertindak tidak bermoral disana karena
tempatnya sangat memungkinkan untuk berbuat negative,selain itu juga
seperti kegiatan bakar-membakar kayu bias diminimalis dengan adanya
keamanan untuk mengurangi kemungkinan kebakaran karena dihutan cemara
ini juga banyak gambut kering yang mudah sekali terbakar.Tetapi masih
terganjal dengan beberapa warga yang cara berfikirnya masih jauh
sehingga mereka berfikir nantinya uang tiket itu bias saja disalah
gunakan oleh karangtaruna,maklum saja warga pesisir masih memiliki SDM
yang terbatas,sebagian besar dari mereka adalah lulusan Sekolah Menengah
Pertama (SMP) yang lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) hanya beberapa
orang saja dan yang masih Mahasiswa hanya 4 orang,sekolahan yang ada
dipesisirpun hanya Sekolah Dasar.Dari sini sudah jelas bahwa potensi
wisata saja tidak cukup apabila yang terlibat langsung (warga) masih
kurang bimbingan dalam segi pengolahan potensi dan pemberdayaannya.Saya
yakin orang-orang yang paham dengan potensi pantai Sine ini sudah
berebutan untuk menanam saham dan modal,buktinya sudah banyak
orang-orang dari luar kota yang berebut membeli tanah untuk membuat
lahan usahanya sedang warga sendiri belum faham dan melepas haknya demi
keuntungan yang dianggapnya besar untuk msekarang.
Banyak sekali
organisasi,komunitas,atau lembaga yang datang ke pantai Sine ini yang
memiliki kepedulian lebih terhadap problematika untuk membantu mulai
dari memberikan bimbingan pengolahan hasil laut,penanaman bibit
mangrove,pemberian tempat sampah,pemberian tanda-tanda bahaya/larangan
bahaya,dan penanaman karang dilaut.sayangnya untuk bimbingan-bimbingan
pemberdayaan warganya masih kurang maksimal.contohnya seperti bimbingan
pengolahan hasil laut,seperti pentol tuna,tahu tuna,dan stick tuna ini
memberikan kegiatan positif untuk ibu-ibu tetapi masih terkendala alat
untuk membuat adonan dan pemasaran sehingga terkesan jalan ditempat dan
hanya dikonsumsi sendiri.kalaupun ada bimbingan tentang wisata itupun
juga tidak berkelanjutan sehingga minat warga menjadi menurun dan
terkesan acuh.Ya sesambi berdoa kita terus bertindak sejauh
kemampuan,saya terus berharap semoga sosok pak Jupri ini nantinya akan
bertambah sehingga pantai Sine akan dipenuhi orang-orang yang sadar akan
kekayaannya dan pandai dalam pengolahannya.